Candi Tikus adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit yang menyimpan misteri dan keunikan tersendiri. Sejarah Candi Tikus erat kaitannya dengan sistem air dan ritual keagamaan pada masa keemasan Majapahit. Terletak di Trowulan, Mojokerto, candi ini dinamai 'Tikus' karena saat ditemukan pada tahun 1914 oleh Dinas Purbakala Belanda, banyak tikus bersarang di sana. Namun, jauh dari kesan kumuh, candi ini adalah mahakarya arsitektur hidrolik kuno yang fungsinya masih diperdebatkan hingga kini.
Lokasi dan Penemuan Candi Tikus
Candi Tikus berada di Dusun Temon, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini ditemukan dalam kondisi terkubur tanah dan batu. Penggalian awal pada 1914-1915 oleh De Haan dan Maclaine Pont mengungkap struktur berbentuk kolam dengan banyak bangunan menyerupai candi kecil. Lokasinya yang dekat dengan pusat kerajaan Majapahit menandakan pentingnya peran candi ini bagi kehidupan masyarakat saat itu.
Arsitektur Unik Candi Tikus
Candi Tikus memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 22 x 24 meter. Di sekelilingnya terdapat dinding bata merah setinggi 2 meter. Uniknya, di dalam kolam terdapat 17 menara kecil (miniatur candi) yang tersusun rapi. Ada pula saluran air yang menghubungkan kolam dengan sungai di sekitarnya. Sejarah Candi Tikus menunjukkan bahwa fungsi utamanya adalah sebagai tempat penampungan dan penyaringan air, bukan sekadar candi pemujaan biasa.
Fungsi Candi Tikus dalam Masa Majapahit
Para arkeolog memiliki beberapa teori tentang fungsi Candi Tikus. Teori pertama menyebutkan bahwa candi ini adalah petirtaan atau tempat pemandian suci. Air yang dialirkan melalui saluran digunakan untuk ritual keagamaan. Teori kedua menyatakan bahwa Candi Tikus adalah tempat penampungan air bersih untuk irigasi pertanian. Mengingat Majapahit adalah kerajaan agraris, sistem pengairan seperti ini sangat vital. Teori ketiga adalah sebagai pusat penelitian dan pengelolaan air. Ini menunjukkan bahwa Sejarah Candi Tikus tidak bisa dipisahkan dari kemajuan teknologi air pada abad ke-14.
Hubungan dengan Candi-candi Lain di Trowulan
Trowulan merupakan kawasan pusat Majapahit. Candi Tikus terletak tidak jauh dari Candi Bajang Ratu, Candi Brahu, dan Gapura Wringin Lawang. Keberadaan candi-candi ini memperkuat posisi Trowulan sebagai ibukota kerajaan. Candi Tikus sendiri diperkirakan dibangun pada abad ke-14 hingga abad ke-15, bersamaan dengan masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Sejarah Candi Tikus menjadi bagian dari narasi besar kejayaan Majapahit yang universal.
Misteri dan Fakta Menarik Candi Tikus
Nama 'Tikus' bukan berarti ada hubungan dengan hewan pengerat, melainkan karena kondisi awal penemuan yang dipenuhi tikus.
Candi Tikus memiliki sistem drainase yang rumit. Air dialirkan dari sungai dan disaring melalui batu-batu di dasar kolam.
Ada 17 miniatur candi di dalamnya. Angka 17 diyakini memiliki makna filosofis, misalnya waktu (17) atau jumlah hari dalam bulan.
Struktur candi terbuat dari bata merah tanpa perekat, namun sangat kokoh. Ini menunjukkan keahlian tinggi arsitek Majapahit.
Hingga kini, Sejarah Candi Tikus masih menyimpan teka-teki mengenai ritual spesifik apa yang dilakukan di sana.
Upaya Pelestarian Candi Tikus
Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya konservasi. Candi Tikus kini menjadi objek wisata sejarah yang populer. Pengunjung dapat melihat langsung struktur candi dan saluran air kuno. Lokasinya yang terbuka memungkinkan edukasi tentang Sejarah Candi Tikus secara langsung. Namun, tantangan seperti erosi dan vandalisme harus terus diantisipasi.
Tips Berkunjung ke Candi Tikus
Waktu terbaik kunjungan adalah pagi hari untuk menghindari panas dan mendapatkan pencahayaan foto terbaik.
Bawa topi dan air minum karena area candi cukup terbuka. Jangan lupa kenakan sepatu nyaman untuk berkeliling.
Gunakan jasa pemandu lokal untuk mendapatkan penjelasan mendetail tentang Sejarah Candi Tikus dan fitur-fitur uniknya.
Jangan memanjat atau merusak struktur bata. Hormati situs bersejarah ini sebagai warisan budaya bangsa.
Kesimpulan
Candi Tikus bukan sekadar tumpukan bata, melainkan bukti kehebatan leluhur dalam mengelola air dan membangun peradaban. Sejarah Candi Tikus mengajarkan pentingnya teknologi hidrolik di masa lampau. Dengan mengunjungi dan mempelajari candi ini, kita turut melestarikan warisan agung Majapahit. Mari jaga dan pelajari lebih dalam kekayaan sejarah Nusantara.